Nyimas Gamparan Kumandangkan Genderang Perang, Belanda Nyaris Terseok - MEGATRUST

Home / Nasional

Selasa, 17 Agustus 2021 - 13:11 WIB

Nyimas Gamparan Kumandangkan Genderang Perang, Belanda Nyaris Terseok

Megatrust.co.id, SERANG – Nyimas Gamparan, merupakan pahlawan wanita Banten yang dengan gagah berani turun ke medan perang melawan penjajahan kolonial Belanda. Nyimas Gamparan kumandangkan genderang perang, Belanda nyaris terseok, perang yang dipimpin oleng panglima perempuan itu.

Nyimas Gamparan menjadi panglima perang, dan kumandangkan genderang perang kepada kolonial Belanda pada saat perang Cikande pada tahun 1830 an. Saat itu pemerintah Belanda melakukan tanam paksa kepada masyarakat sekitar.

Salah satu pahlawan perempuan Banten itu, tidak terima dengan aturan tanam paksa yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada masyarakat Cikande dan sekitarnya. Tidak ada kata yang pantas bagi Nyimas Gamparan ucapkan selain menabuh genderang perang melawan para penjajah di tanah jawara.

Foto : Kondisi patilasan Nyimas Gamparan di Kecamatan Pabuaran Kebupaten Serang

Nyimas Gamparan bersama pasukannya melawan Belanda menggunakan strategi griliya. Kala itu Belanda nyaris terseok dan kalah oleh Nyimas Gamparan bersama dengan pasukannya. Namun Belanda yang tidak mau kalah akhirnya Belanda mengatur strategi adu domba antara masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Dukung Gerakan #DiIndonesiaAja, Garuda Indonesia Gelar Program "Wisata Nusantara"

Sehingga strategi dan kerahasiaan serta persembunyian atau tempat petapa Nyimas Gamparan bocor ke tangan Belanda, sehingga terkepung Nyimas Gamparan saat berperang melawan Belanda.

Hingga saat ini di wilayah Banten makam Nyimas Gamparan tidak diketahui. Akan tetapi, tempat patilasan atau tempat berkumpul mengatur strategi perang melawan Belanda itu di Kampung Kadaung, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang,

Hal itu diterangkan Beni Kusnandar Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, berdasarkan informasi yang diterimanya dari jukpel atau juru pelihara patilasan Nyimas Gamparan bernama Afan bahwa makan Nyimas Gamparan berada di daerah Kecamatan Pamarayan.

Foto : Patilasan Nyimas Gamparan masuk dalam situs cagar budaya Kabupaten Serang

“Tapi setelah saya selidiki kesana itu tidak ada, dan tidak ada yang mengetahui keberadaan makam Nyimas Gamparan,” kata Beni kepada Suara.com di Serang.

Dikatakan Beni, artinya Nyimas Gamparan bukan kelahiran asli Banten. Menurut informasi yang diterimanya, Nyimas Gamparan merupakan keturunan Kesultanan yang lahir kala itu di di Surakarta.

” Di Kabupaten Serang, Nyimas Gamparan ini hanya ada patilasan saja, artinya Nyimas Gamparan tidka lahir di di wilayah Kabupaten Serang atau bukan asli Pabuaran,” katanya.

Baca Juga :  Dukung Gerakan #DiIndonesiaAja, Garuda Indonesia Gelar Program "Wisata Nusantara"

Beni membeberkan asal-usul nama Nyimas Gamparan. Nama asli dari Nyimas Gamparan adalah Saliah. Kata Beni, nama Nyimas itu merupakan keturunan dari kesultanan kala itu, sementara nama Gamparan diambil dari kata Gampar yang artinya sandal.

“Karena pahlawan perempuan satu ini sering membawa sendal kemana dia pergi dan sering mengacungkan sendalnya saat mengumandangkan genderang perang, akhirnya julukan Saliyah itu menjadi Nyimas Gamparan,” beber Beni yang mendapatkan informasi dari Afan selaku Jukpel.

Beni menceritakan, perperangan yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan merupakan perperangan yang ada di wilayah Cikande, kala itu kolonial Belanda yang dipimpin Daendles ingin memberlakukan tanam paksa kepada masyarakat sekitar.

Nyimas Gamparan yang tidak terima dengan aturan para penjajah itu, mengajak masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada pemerintah Belanda. Nyimas Gamparan menggunakan strategi griliya atau strategi yang berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain untuk mengelabuhi Belanda sehingga strategi pernah tidak diketahui.

Pasukan Nyimas Gamparan dengan pasukan Belanda sudah bersiap untuk berperang. Kala itu, Belanda sudah terseok atau terdesak nyaris kalah oleh Nyimas Gamparan bersama pasukannya, Belanda sempat menarik mundur pasukannya.

Baca Juga :  Dukung Gerakan #DiIndonesiaAja, Garuda Indonesia Gelar Program "Wisata Nusantara"

“Tak ingin kalah, oleh pahlawan perempuan. Belanda akhirnya mengatur strategi adu domba antara masyarakat, sehingga strategi dan taktik serja tempat perkumpulan Nyimas Gamparan diketahui oleh Belanda,” kata Beni.

Kala itu, saat Nyimas Gamparan memimpin perang di Cikande usianya sangatlah produktif berkisar antara 30 hingga 40 tahun. Bahkan lanjut Beni, perang Cikande lebih besar dibandingkan dengan Geger Cilegon, pasalnya Geger Cilegon tidak sampai kepada adu domba antara masyarakat.

“Perang Cikande itu, sampai ke adu domba berarti kan saking lamanya perang Cikande itu yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan,” tutur Beni.

Ditambahkan Beni, oleh karena ini petilasan Nyimas Gamparan yang berada di daerah Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang saat ini sudah dimasukan ke dalam situs cagar budaya.

“Bahkan Bupati Serang sudah mengeluarkan SK untuk patilasan Nyimas Gamparan dengan nomor Nomor 430/Kep173-U/2017 Tentang penetapan situs dan Cagar Budaya sebagai aset daerah di Kabupaten Serang,” pungkasnya. (Amul/red)

Share :

Baca Juga

Nasional

Anak Sulung Ridwan Kamil Tak Kunjung Ditemukan, Ustad Adi Hidayat Sarankan Keluarga Baca Surat Ini

Nasional

Buntut Dari Terobos Masuk ke Ruang Kerja Gubernur Banten, 6 Buruh Ditetapkan Tersangka.

Nasional

Percepat Vaksinasi Covid-19, Sinar Mas Land Gelar Sentra Vaksin Gotong Royong di Kota Deltamas Cikarang

Nasional

Jangan Nekat, Pemudik Tak Kantongi Tiket Dilarang ke Pelabuhan Merak

Nasional

Centang Biru Twitter Kini Berbayar, Segini Tarifnya?

Nasional

Awal Tahun 2023, Program Kartu Prakerja Kembali Dibuka Dengan Skema Baru

Nasional

TOK!! Pemerintah Sepakati Awal Puasa Ramadan 12 Maret 2024, Begini Penjelasan Menag

Nasional

Tugas dan Peran Penghulu Tidak Hanya Menikahkan, Ternyata Mengurus Konflik Hingga KDRT