Nyimas Gamparan Kumandangkan Genderang Perang, Belanda Ngacir - MEGATRUST

Home / Nasional

Rabu, 10 November 2021 - 10:34 WIB

Nyimas Gamparan Kumandangkan Genderang Perang, Belanda Ngacir

FOTO : Ilustrasi pahlawan wanita dalam melawan penjajah Belanda. Ist

FOTO : Ilustrasi pahlawan wanita dalam melawan penjajah Belanda. Ist

Megatrust.co.id, SERANG – Nyimas Gamparan, kumandangkan genderang Perang, Belanda Ngacir. Nyimas Gamparan, merupakan pahlawan wanita Banten yang dengan gagah berani turun ke medan perang melawan penjajahan kolonial Belanda.

Nyimas Gamparan menjadi panglima perang, dan kumandangkan genderang perang kepada kolonial Belanda pada saat perang di wilayah Cikande pada tahun 1830 an. Saat itu pemerintah Belanda melakukan tanam paksa kepada masyarakat sekitar.

Salah satu pahlawan perempuan Banten itu, tidak terima dengan aturan tanam paksa yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada masyarakat Cikande dan sekitarnya. Tidak ada kata yang pantas bagi Nyimas Gamparan selain ucapkan menabuh genderang perang melawan para penjajah di tanah jawara.

Nyimas Gamparan bersama pasukannya melawan Belanda menggunakan strategi griliya. Kala itu Belanda nyaris terseok dan kalah oleh Nyimas Gamparan bersama dengan pasukannya. Namun Belanda yang tidak mau kalah, akhirnya Belanda mengatur strategi adu domba antara masyarakat sekitar.

Sehingga strategi dan kerahasiaan serta persembunyian atau tempat petapa Nyimas Gamparan bocor ke tangan Belanda, sehingga Nyimas Gamparan terkepung dan perang melawan Belanda.

Baca Juga :  Selain PCR, RT-LAMP Resmi Mendapatkan Izin Kemenkes. Alat Deteksi Varian Covid-19 Dari Mana Asalnya?

Akan tetapi, hal itu merupakan sebuah cerita tentang kesosokan nyimas Gamparan sebagai pahlawan perempuan melawan Belanda, akan tetapi keberadaan makam Nyimas Gamparan hingga saat ini belum diketahui.

Akan tetapi, tempat patilasan atau tempat berkumpul mengatur strategi perang melawan Belanda terletak di Kampung Kadaung, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang,

Hal itu diterangkan Beni Kusnandar Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, berdasarkan informasi yang diterimanya dari jukpel atau juru pelihara patilasan Nyimas Gamparan bernama Afan bahwa makan Nyimas Gamparan berada di daerah Kecamatan Pamarayan.

“Tapi setelah saya selidiki kesana itu tidak ada, dan tidak ada yang mengetahui keberadaan makam Nyimas Gamparan,” kata Beni di Serang.

Dikatakan Beni, artinya Nyimas Gamparan bukan kelahiran asli Banten. Menurut informasi yang diterimanya, Nyimas Gamparan merupakan keturunan Kesultanan yang lahir kala itu di Surakarta.

“Di Kabupaten Serang, Nyimas Gamparan ini hanya ada petilasan saja, artinya Nyimas Gamparan tidak lahir di di wilayah Kabupaten Serang atau bukan asli Pabuaran,” katanya.

Baca Juga :  Perlu Tahu Nih.!! Ini Keunggulan Metode RT-LAMP Alat Untuk Deteksi Covid-19

Beni membeberkan asal-usul nama Nyimas Gamparan. Nama asli dari Nyimas Gamparan adalah Saliah. Kata Beni, nama Nyimas itu merupakan keturunan dari kesultanan kala itu, sementara nama Gamparan diambil dari kata Gampar yang artinya sandal.

“Karena pahlawan perempuan satu ini sering membawa sendal kemana dia pergi dan sering mengacungkan sendalnya saat mengumandangkan genderang perang, akhirnya julukan Saliyah itu menjadi Nyimas Gamparan,” beber Beni yang mendapatkan informasi dari Afan selaku Jukpel.

Beni menceritakan, perperangan yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan merupakan perperangan yang ada di wilayah Cikande, kala itu kolonial Belanda yang dipimpin Daendles ingin memberlakukan tanam paksa kepada masyarakat sekitar.

Nyimas Gamparan yang tidak terima dengan aturan para penjajah itu, mengajak masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada pemerintah Belanda. Nyimas Gamparan menggunakan strategi griliya atau strategi yang berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain untuk mengelabuhi Belanda sehingga strategi pernah tidak diketahui.

Pasukan Nyimas Gamparan dengan pasukan Belanda sudah bersiap untuk berperang. Kala itu, Belanda sudah terseok atau terdesak nyaris kalah oleh Nyimas Gamparan bersama pasukannya, Belanda sempat menarik mundur pasukannya.

Baca Juga :  Si Jago Merah Ngamuk di Salah Satu Ponpes di Kabupaten Serang.

“Tak ingin kalah, oleh pahlawan perempuan. Belanda akhirnya mengatur strategi adu domba antara masyarakat, sehingga strategi dan taktik serja tempat perkumpulan Nyimas Gamparan diketahui oleh Belanda,” kata Beni.

Kala itu, saat Nyimas Gamparan memimpin perang di Cikande usianya sangatlah produktif berkisar antara 30 hingga 40 tahun. Bahkan lanjut Beni, perang Cikande lebih besar dibandingkan dengan Geger Cilegon, pasalnya Geger Cilegon tidak sampai kepada adu domba antara masyarakat.

“Perang Cikande itu, sampai ke adu domba berarti kan saking lamanya perang Cikande itu yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan,” tutur Beni.

Ditambahkan Beni, oleh karena ini petilasan Nyimas Gamparan yang berada di daerah Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang saat ini sudah dimasukan ke dalam situs cagar budaya.

“Bahkan Bupati Serang sudah mengeluarkan SK untuk patilasan Nyimas Gamparan dengan nomor Nomor 430/Kep173-U/2017 Tentang penetapan situs dan Cagar Budaya sebagai aset daerah di Kabupaten Serang,” pungkasnya. (Amul/red)

Share :

Baca Juga

Nasional

Info Loker Cilegon, PT SUJ Buka Lowongan Kerja, Cek Persyaratan dan Cara Melamar

Nasional

Fakultas Hukum UPG Gelar Talkshow Soal Pertanahan, Sebagai Pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Nasional

Kejagung Tetapkan 5 Tersangka Proyek Blast Furnace di PT Krakatau Steel. Erick Thohir Angkat Suara

Nasional

Jakarta International Stadium Selesai Terpasang di Pekan ke-118

Nasional

Terlalu Lama Rusak, Jokowi : Pemerintah Pusat Akan Ambil Alih Perbaikan Jalan Lampung

Nasional

Bikin Bangga! Kemenag segera Cetak Al-Qur’an Bahasa Isyarat 30 Juz

Nasional

Ketua DPRD Kabupaten Lumajang Mundur usai Video Tidak Hafal Pancasila Viral.

Nasional

Ini Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriyah Beserta Artinya