Sejarah Jakarta Fair, dari Pasar Malam Hingga Jadi Pameran Terbesar di Asia Tenggara - MEGATRUST

Home / Nasional

Kamis, 6 Juni 2024 - 21:00 WIB

Sejarah Jakarta Fair, dari Pasar Malam Hingga Jadi Pameran Terbesar di Asia Tenggara

MEGATRUST.CO.ID Inilah sejarah Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair yang masih eksis hingga saat ini.

Hajatan tahunan Ibu Kota ini selalu dinantikan oleh kalangan masyarakat dan tidak pernah sepi dari pengunjung.

Jakarta Fair adalah pameran terbesar di Asia Tenggara yang umumnya berlangsung selama satu bulan penuh, mulai dari bulan Juni hingga bulan Juli. Jika menilik dari sejarah, acara ini sudah berlangsung lama sejak tahun 1968.

Tahun 2024, Jakarta Fair akan digelar mulai 12 Juni hingga 14 Juli 2022 di arena JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menggali lebih dalam soal Jakarta Fair, berikut ini sejarahnya.

Baca Juga :  Rekrutmen Pantarlih Pilkada 2024, Simak Tugas, Masa Kerja Hingga Nominal Gajinya

Dikutip dari Indonesia.go.id, Pekan Raja Jakarta atau PRJ dulu dikenal sebagai Djakarta Fair. PRJ pertama kalinya berlangsung di Kawasan Monas, Jakarta Pusat. Ketika itu, Djakarta Fair dibuka oleh Presiden Soeharto secara simbolis dengan melepas burung merpati pos.

Namun, sebenarnya cikal bakal penyelenggaraan Jakarta Fair adalah Pasar Malam Gambir, yang awalnya digelar sebagai perayaan Ratu Belanda Wilhelmina pada 31 Agustus 1898.

Saat itu, Pasar Malam Gambir biasanya berlangsung dari akhir Agustus sampai pertengahan September dan diadakan secara rutin setiap tahun.

Selain menjajakan produk, kuliner khas Batavia (Jakarta tempo dulu) serta pentas hiburan, ajang Pasar Gambir di masa kolonial Belanda juga menggelar pertandingan tinju antara pribumi dan orang Belanda. Selain di Pasar Gambir, laga tinju dilakukan di Deca Park (sekarang lapangan Monas), Varia Park (Krekot), dan Princen Park (Lokasari).

Baca Juga :  Jakarta Fair 2024: Jadwal, Jam Operasional dan Harga Tiketnya

Adapun, gagasan pertama penyelenggaraan PRJ diusulkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) kala itu, Syamsudin Mangan alias Haji Mangan. Dia mengusulkan digelarnya pameran besar demi mendongkrak pemasaran produk dalam negeri.

Haji Mangan sendiri terinspirasi dengan acara pameran internasional yang kerap dia ikuti di luar negeri. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1967 menyambut baik usai mendengar gagasan dari Haji Mangan.

Pemprov DKI ingin menyatukan berbagai acara ‘pasar malam’ yang sering diadakan di berbagai wilayah di Jakarta. Akhirnya, pada 1968 acara perdana Djakarta Fair berjalan dengan sukses.

Baca Juga :  Catat, Ini Tips yang Efektif Agar Lolos CPNS PPPK 2024

Ketika itu, Djakarta Fair mendapatkan kunjungan dari 1,4 juta orang. Akhirnya, event ini pun dilanjutkan dan digelar secara rutin setiap tahun hingga berkembang seperti sekarang.

Pada 1992, event Jakarta Fair atau PRJ dipindah dari Monas ke Kemayoran Jakarta Pusat agar mendapat lahan yang lebih luas. PRJ di Kemayoran sendiri digelar di area seluas 44 hektar, sedangkan di Monas hanya 7 hektar.

Penyelenggaraan PRJ sempat dihentikan selama dua tahun karena pandemi Covid-19. Tapi sejak tahun lalu, warga Jakarta dan sekitarnya bisa kembali memeriahkan event PRJ di Kemayoran.

(Nad/Amul)

Share :

Baca Juga

Nasional

SIMAK, Cara Daftar dan Syarat Seleksi Petugas Haji 2024

Nasional

Puasa Ramadhan 2023 Dilaksanakan pada Tanggal Berapa? Cek di Sini

Nasional

Mensos Membuka Alasan Pemerintah Terapkan PPKM Darurat

Nasional

Mudik Sendirian Tak Menjadi Penghalang Bagi Single Mom Asal Lampung Ini, Simak Kisahnya

Nasional

Menteri Pertanian Turun Gunung Pantau Lalu Lintas Hewan di Cilegon. Masyarakat Jangan Panik

Nasional

Karawang International Industry City Lakukan Normalisasi dan Penanaman Pohon di Sungai Kalikalapa

Nasional

Nasabah Primkokas Melakukan Pengambilan Dana, Segini Total Keseluruhan

Nasional

Catat Nih! Jadwal Keberangkatan Kapal di Dermaga Eksekutif Merak Jumat 14 Oktober