Nasional

Klarifikasi Jusuf Kalla Terkait Tudingan Penistaan Agama: “Saya Bicara di Masjid”

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (tengah), dengan didampingi mantan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin (kiri), serta mantan Juru Bicara Wakil Presiden periode 2014-2019, Husain Abdullah (kanan), menyampaikan keterangan pers di kediamannya Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait polemik dugaan penistaan agama yang muncul akibat beredarnya potongan video ceramahnya di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa isi ceramahnya perlu dipahami secara utuh dan tidak dipotong konteksnya. Megatrust/Cecep

Megatrust.co.id, JAKARTA – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi tegas terkait potongan video ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dituding menista agama Kristen. JK menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah yang tidak memahami konteks ruang dan waktu.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), JK menekankan bahwa ceramah tersebut dilakukan dalam forum terbatas di hadapan jemaah Muslim dan kalangan intelektual kampus.

JK menjelaskan bahwa inti ceramahnya di UGM adalah tentang perdamaian. Ia menggunakan perbandingan istilah dalam Islam dan Kristen untuk menjelaskan motivasi orang-orang yang terlibat dalam konflik masa lalu.

  • Istilah Syahid: Digunakan JK karena audiens di masjid lebih memahami terminologi ini sebagai seseorang yang wafat membela agama.

  • Istilah Martir: Merupakan padanan dalam agama Kristen yang memiliki makna serupa.

  • Alasan Penggunaan: “Saya di masjid, maka saya pakai kata syahid karena kalau saya pakai kata martir jemaah tidak tahu. Bedanya hanya pada istilah dan cara, intinya sama-sama membela agama,” tegas JK.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (kiri), didampingi mantan Juru Bicara Wakil Presiden periode 2014-2019, Husain Abdullah (kanan), menyampaikan keterangan pers di kediamannya Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait polemik dugaan penistaan agama yang muncul akibat beredarnya potongan video ceramahnya di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa isi ceramahnya perlu dipahami secara utuh dan tidak dipotong konteksnya. Megatrust/Cecep

Untuk memberikan gambaran nyata, JK sempat menunjukkan video dokumenter kondisi konflik di Maluku dan Poso. Ia mengingatkan betapa brutalnya dampak dari isu agama yang dipolitisasi.

“Inilah konflik, bagaimana kejamnya waktu itu. Agama masuk di situ, Islam-Kristen berbuat begitu. Orang yang bertetangga malah saling membakar rumah,” tuturnya.

JK menekankan bahwa keterlibatannya dalam mendamaikan Poso dan Maluku adalah bukti nyata keberpihakannya pada kemanusiaan, bukan penistaan terhadap salah satu agama.

Menurut JK, narasi penistaan yang beredar di media sosial muncul karena video ceramahnya dipotong oleh pihak tidak bertanggung jawab. Berikut adalah poin-poin isi ceramah aslinya:

  1. Tema Perdamaian: Ceramah dilakukan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 2026 dengan fokus akhir dari sebuah konflik.

  2. Sejarah Konflik: JK menjabarkan rentetan konflik di Indonesia, mulai dari ideologi (Madiun), wilayah (Timor Timur), hingga ekonomi (Aceh).

  3. Hanya Satu Menit: Bahasan mengenai agama hanya porsi kecil (sekitar 1 menit) dari keseluruhan ceramah yang menjelaskan penyebab orang berani bertaruh nyawa dalam perang.

JK tampak emosional menanggapi tudingan penistaan tersebut. Sebagai sosok yang mempertaruhkan nyawa untuk mendamaikan konflik Poso, ia merasa difitnah oleh orang-orang yang tidak memahami kondisi lapangan.

“Saya mendamaikan ini, apa saya menista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya masuk ke daerah itu. Saya tahu kenapa mereka berbuat begitu, karena mereka pikir ini perang suci,” pungkasnya. (Cep/Red)

Exit mobile version