Megatrust.co.id, Jakarta – Dukungan terhadap langkah tegas pemerintah dalam melarang impor pakaian dan tas bekas ilegal (balpres) terus menguat. Dukungan kali ini diwujudkan melalui sebuah gerakan baru yang digagas oleh Sinergi ADV Nusantara bersama berbagai asosiasi dan komunitas, termasuk suporter sepak bola.
Prama Tirta Leksana, CEO Sinergi ADV Nusantara, menegaskan bahwa ketegasan negara sangat dibutuhkan untuk melindungi industri kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang kini terancam kerugian masif.
Prama Tirta Leksana resmi meluncurkan slogan baru yang menjadi tagline gerakan ini: “Indonesia Emas, Bukan Indonesia Bekas.”
Slogan ini menjadi simbol perlawanan terhadap narasi yang meremehkan persoalan impor ilegal dan mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk mencintai produk dalam negeri.
Prama mengaku sempat pesimistis karena maraknya pembelaan terhadap impor ilegal, namun ia kini memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa atas ketegasan mereka.
“Saya percaya 1000% kepada Pak Prabowo, beliau menghargai sekali UKM-UKM itu. Dukungannya 1000%,” tegas Prama.
Prama menegaskan bahwa kerugian akibat masuknya pakaian bekas ilegal jauh lebih besar daripada sekadar kerugian finansial; ia menghantam inti dari kreativitas generasi muda di daerah.
Ia mengungkap dampak langsung di industrinya: dari 200 mesin konveksi, kini hanya 10 yang beroperasi.
Merusak Kreativitas: “Ruginya itu generasi bangsa jadi tidak berkembang, tidak kreatif akhirnya karena sudah kebanyakan pakaian (bekas ilegal) yang murah-murah, mereka terlena tinggal beli saja 25 ribu, 50 ribu.”
Merugikan Industri Lokal: Produk impor ilegal menekan harga pasar, membuat produk UMKM sulit bersaing.
Dukungan signifikan terhadap Pelarangan Impor Pakaian Bekas Ilegal ini juga datang dari komunitas suporter. Abi Irlan, Anggota The Jak Mania Garis Keras, menyampaikan bahwa kelompok suporter turut terdampak karena mereka memiliki merek-merek merchandise lokal dan apparel resmi klub yang terpukul.
“Harga jual apparel resmi saja sampai mendekati 1 juta dan mereka lebih milih barang-barang bekas yang branded (yang lebih murah),” akunya.
Irlan menegaskan, The Jak Mania akan aktif mendukung gerakan ini, bahkan spanduk dukungan berencana dipasang di tribun sebagai bentuk komitmen.
Senada dengan itu, David Chalik, Ketua Himpunan Alas Kaki Nusantara (HIPAN), menegaskan bahwa negara wajib menegakkan aturan untuk melindungi pelaku usaha dalam negeri.
“Kita bisa mengembangkan industri. Kita bisa mengurangi jumlah pengangguran… Indonesia harus jadi Raja di negaranya sendiri. Produk Indonesia harus jadi Raja di negaranya sendiri,” ungkap David Chalik.
Acara konferensi pers ini turut dihadiri dan didukung oleh perwakilan dari berbagai asosiasi industri, antara lain:
Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB).
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).
Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI).
Aliansi Industri Kecil Menengah Indonesia (AIKMI).
Semua sepakat: Gerakan Indonesia Emas Bukan Indonesia Bekas adalah panggilan untuk semua pihak agar bersatu membela produk dan kreativitas bangsa. (Cep/Red)














